PADANG, SUMBARBERKABAR–Bank Nagari terus memperkuat perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah diantaranya dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bunga nol persen serta pembiayaan Flyover Sitinjau Lauik.
Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari, Hafid Dauli mengatakan nasabah dapat mengakses program KUR dengan suku bunga nol persen sejak Januari 2026.
Kebijakan stimulus ini diberikan sebagai bentuk relaksasi dan dukungan pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi bagi pelaku usaha (UMKM) di Sumbar yang terdampak bencana
“Hingga Mei 2026 sudah disalurkan sebesar Rp700 miliar dari total kuota sebesar Rp1,6 triliun,” ujarnya dalam Konfrensi Pers bersama direksi, komisaris dan dewan pengawas syariah, Kamis (4/6).
Hafid Dauli, mengatakan program berjalan lancar tanpa kendala berarti dan akan terus dimaksimalkan karena bertujuan membantu pelaku UMKM serta masyarakat terdampak bencana.
“Kendala tidak ada dan ini terus kita maksimalkan karena tujuannya membantu masyarakat terdampak bencana, khususnya UMKM,” ujar Hafid Dauli.
Menurutnya, program KUR bunga 0 persen tersebut masih akan berlangsung hingga Desember 2026 sesuai ketentuan pemerintah terkait daerah kebencanaan.
Selain fokus pada pembiayaan UMKM, Bank Nagari juga ikut mendukung proyek strategis nasional pembangunan Flyover Sitinjau Lauik bersama sejumlah bank lainnya.
Bank Nagari ikut serta dalam pembiayaan mega proyek Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik) dengan kucuran dana sebesar Rp209 miliar skema pembiayaan konvensional dan syariah.
Dana tersebut merupakan bagian dari skema kredit sindikasi bersama sejumlah lembaga keuangan nasional lainnya (seperti BNI, BRI, SMI, BTN, dan BSI untuk mendukung total investasi proyek senilai Rp2,8 triliun.
Hafid menjelaskan, dari lima bank yang terlibat dalam pembiayaan proyek tersebut, Bank Nagari menjadi satu-satunya Bank Pembangunan Daerah (BPD).
“Dari lima bank yang ikut pembiayaan flyover, hanya Bank Nagari satu-satunya BPD. Sisanya adalah bank Himbara, ini sungguh suatu kebanggaan bagi kita,” katanya.
Dalam proyek tersebut, Bank Nagari memperoleh porsi pembiayaan untuk konvensional sebesar Rp100 miliar dan pembiayaan syariah sekitar Rp109 miliar.
Meski demikian, hingga Mei 2026 realisasi pencairan pembiayaan proyek tersebut baru mencapai sekitar Rp20 miliar dengan progres pekerjaan sekitar 18,9 persen.
Menurut Hafid, kondisi lapangan yang kurang mendukung menjadi salah satu faktor yang menyebabkan progres pembangunan berjalan lebih lambat dari target awal.
“Pencairan sampai Mei masih sekitar Rp20 miliar karena ada kondisi lapangan yang kurang mendukung sehingga progres proyek sedikit lambat,” jelasnya.
Namun demikian, Bank Nagari optimistis pembangunan Flyover Sitinjau Lauik akan kembali bergerak lebih cepat setelah persoalan pembebasan lahan dan tanah dinyatakan selesai.
Ia mengatakan pada Juni 2026 ini direncanakan kembali dilakukan pencairan pembiayaan sekitar Rp20 miliar guna mendukung percepatan pembangunan proyek tersebut.
“Mudah-mudahan proyek ini segera bisa bergerak dengan cepat karena sebagaimana diinformasikan persoalan tanah saat ini sudah selesai.
Dengan demikian pengerjaan juga bisa dipercepat dan pencairan pembiayaan dapat direalisasikan. Dengan begitu tentu pendapatan bank juga akan bertambah,” katanya. (*)
